We see the light
Plantation stocks under our coverage have sharply increased by 16.1% on average from last trading day in 2008, factoring possible lower soybean oil production and CPO inventory level. We also view that current export data (up by 29.7% yoy in Jan09) are providing some support to CPO prices since it is not as bleak as previously estimated. However, as CPO production should take time to decline, inventory in producing countries might be still high in 1H09. We sense CPO prices to remain volatile in the near term, and we expect to see sustained recovery in prices in the 2H09. We therefore maintain our Overweight stance for the sector with CPO price assumptions at US$550-600/ton in FY09F-10F.
My Family
Senin, 16 Februari 2009
Detikfinance Peringkat Bakrieland Stabil
Jakarta - Meski mengalami ancaman penurunan permintaan properti, peringkat PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) tetap stabil baik untuk kinerja perusahaan dan obligasi yang diterbitkan tahun 2008 senilai Rp 500 miliar.
Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menetapkan kembali rating ELTY idBBB+ dengan prospek stabil. Peringkat ini mencerminkan kuatnya posisi bisnis perusahaan sebagai salah satu pengembang properti nasional terbesar, kualitas aset perusahaan yang cukup baik serta struktur permodalan yang cukup konservatif.
"Namun peringkat diperlemah oleh potensi penurunan permintaan properti dan peningkatan risiko investasi jangka pendek karena perkembangan pasar keuangan yang kurang stabil, persaingan yang ketat di segmen residensial high-rise dan porsi pendapatan tetap Perusahaan yang relatif kecil," kata analis Pefindo Vonny Widjaja & Rifan Firmansyah dalam siaran pers, Sabtu (14/2/2009).
ELTY memiliki proyek properti besar di area utama Jakarta yaitu Rasuna Epicentrum, sebuah proyek superblok yang terdiri dari perkantoran, apartemen dan pusat entertainment. Perusahaan juga memiliki proyek residensial besar di Bogor yaitu Bogor Nirwana Residence.
Di masa mendatang, walaupun Perusahaan masih menjalankan binis penyewaan ruangan dan hotel, ekspansi bisnis ELTY akan lebih fokus di proyek residensial.
Selain bisnis properti, perusahaan juga mempunyai bisnis infrastruktur yang berkaitan dengan properti yaitu ruas tol Kanci-Pejagan yang merupakan bagian dari ruas tol trans-Jawa dan kepemilikan sebesar 3,75% di PT Aetra Air Jakarta, sebuah Perusahaan yang menyediakan air untuk daerah Jakarta Timur.
Saham perusahaan per 30 September 2008 dimiliki oleh PT Bakrie & Brothers Tbk (19,37%), CGMI 1 Client Segregated Securities (15,45%), Samuel Securities (5,62%) dan publik (59.56%). Peringkat ELTY ini berlaku untuk periode 28 Januari 2009 sampai 1 Januari 2010.(ir/ir)
Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menetapkan kembali rating ELTY idBBB+ dengan prospek stabil. Peringkat ini mencerminkan kuatnya posisi bisnis perusahaan sebagai salah satu pengembang properti nasional terbesar, kualitas aset perusahaan yang cukup baik serta struktur permodalan yang cukup konservatif.
"Namun peringkat diperlemah oleh potensi penurunan permintaan properti dan peningkatan risiko investasi jangka pendek karena perkembangan pasar keuangan yang kurang stabil, persaingan yang ketat di segmen residensial high-rise dan porsi pendapatan tetap Perusahaan yang relatif kecil," kata analis Pefindo Vonny Widjaja & Rifan Firmansyah dalam siaran pers, Sabtu (14/2/2009).
ELTY memiliki proyek properti besar di area utama Jakarta yaitu Rasuna Epicentrum, sebuah proyek superblok yang terdiri dari perkantoran, apartemen dan pusat entertainment. Perusahaan juga memiliki proyek residensial besar di Bogor yaitu Bogor Nirwana Residence.
Di masa mendatang, walaupun Perusahaan masih menjalankan binis penyewaan ruangan dan hotel, ekspansi bisnis ELTY akan lebih fokus di proyek residensial.
Selain bisnis properti, perusahaan juga mempunyai bisnis infrastruktur yang berkaitan dengan properti yaitu ruas tol Kanci-Pejagan yang merupakan bagian dari ruas tol trans-Jawa dan kepemilikan sebesar 3,75% di PT Aetra Air Jakarta, sebuah Perusahaan yang menyediakan air untuk daerah Jakarta Timur.
Saham perusahaan per 30 September 2008 dimiliki oleh PT Bakrie & Brothers Tbk (19,37%), CGMI 1 Client Segregated Securities (15,45%), Samuel Securities (5,62%) dan publik (59.56%). Peringkat ELTY ini berlaku untuk periode 28 Januari 2009 sampai 1 Januari 2010.(ir/ir)
Detikfinance Transaksi Derivatif Antam dan Timah Beres
Jakarta - Kementerian BUMN menilai masalah transaksi derivatif dua BUMN tambang yakni PT Aneka Tambang Tbk dan PT Timah Tbk (TINS) sudah selesai. Keduanya sudah membereskannya di tahun 2008. "Antam dan Timah masalahnya sudah selesai 2008 lalu, mereka sudah closed masalahnya, sudah selesai," kata Menneg BUMN Sofyan Djalil di kantor depkeu, Jakarta, Jumat malam (14/2/2009). Sebelumnya Sofyan pernah mengatakan transaksi derivatif kedua BUMN itu tidak menyimpang karena dilakukan untuk lindung nilai (hedging) bukan untuk spekulasi.
Sementara masalah transaksi derivatif PT Elnusa Tbk dengan Bank Danamon juga telah mencapai kesepakatan yang dimediasi oleh Bank Indonesia sehingga penyelesaiannya dilakukan di luar pengadilan. Direktur Keuangan Antam, Djaja Tambunan dalam siaran pers 5 Desember 2008 pernah mengatakan transaksi derivatif yang dilakukan perusahaan untuk lindung nilai dalam rangka mengurangi risiko eksposure valas.
"Antam melakukan kebijakan derivatif yang bijaksana di tengah volatilitas pasar saat ini yang tujuannya meminimalkan dampak negatif bagi casflow," katanya. Antam memprediksi volatilitas global masih akan berlanjut di tahun 2009. Maka itu Antam akan melakukan kebijakan valas yang terukur sehingga bisnis perusahaan tetap kuat yang tidak melebihi 30% dari modal kerja bulanan. Pelemahan rupiah yang signifiakn di triwulan IV-2008 telah membuat perusahaan-perusahaan di Indonesia banyak mengalami rugi valas.
(ir/ir)
Sementara masalah transaksi derivatif PT Elnusa Tbk dengan Bank Danamon juga telah mencapai kesepakatan yang dimediasi oleh Bank Indonesia sehingga penyelesaiannya dilakukan di luar pengadilan. Direktur Keuangan Antam, Djaja Tambunan dalam siaran pers 5 Desember 2008 pernah mengatakan transaksi derivatif yang dilakukan perusahaan untuk lindung nilai dalam rangka mengurangi risiko eksposure valas.
"Antam melakukan kebijakan derivatif yang bijaksana di tengah volatilitas pasar saat ini yang tujuannya meminimalkan dampak negatif bagi casflow," katanya. Antam memprediksi volatilitas global masih akan berlanjut di tahun 2009. Maka itu Antam akan melakukan kebijakan valas yang terukur sehingga bisnis perusahaan tetap kuat yang tidak melebihi 30% dari modal kerja bulanan. Pelemahan rupiah yang signifiakn di triwulan IV-2008 telah membuat perusahaan-perusahaan di Indonesia banyak mengalami rugi valas.
(ir/ir)
[BRIGHT INFO] Weekly Outlook
[BRIGHT INFO] Weekly Outlook
General
• On average JCI closed slightly positive last week
• CDS still wide but IDR looks stable at 11,800
• Liquidity mostly still thin
• Oil below $40 a barrel
• CPO price looks higher above RM2,000 a ton
Sector
• Bank; after sharp decline around 27% on average at this sector (Bluechip Banks), We think bank sector more attractive. We still put Neutral on Bank Sector but looking short-term rebound so we took opportunity on Buy on Weakness specially on BMRI and BBCA
• ASII; after sharp decline we looks opportunity to technical rebound, we believe sales will improve soon after interest rate cut by BI on next meeting. Buy on Weakness for short-term rebound.
• Telco; TLKM believes tariffs bottomed in 4Q08 and that the price war is coming to an end, Telkomsel subscribers continue to grow, Telkom flexi gain strong traction, Broadband contribution continues to increase, Management acknowledged that they are looking into potential investment in Iran and fully aware of the political risk and potential backfire from its shareholders.
• Agro; CPO price still climbing maintain positive on this sector. LSIP, UNSP and AALI
• Energy, PGAS volume looks double on “Muara Tawar” . This is positive for PGAS, Management denied that Gas price will cut. Change our view to Outperform from Neutral.
• Coal; On weekly average price coal looks up around 4$/ton at $80,28 and on monthly at $82,68 up from $78,18. Maintain positive on coal price. Our top pick are PTBA, ITMG, ADRO and BUMI (for more risky).
Our Focus BMRI
• Recent loan restructuring and recovery effort have also helped reduce Mandiri’s gross NPL below 5%.
• Improving asset utilization coupled with declining NPL should improve BMRI profitability over the next few years
• BMRI have the highest asset quality, lowest NPL industry, highest NIM and lowest cost structure
• Gross NPL down to 4.7% YoY from from 7.2% 2007
• With EPS consensus idr 222 TP consensus idr 2,350
[Personal Opinion by Mod]
General
• On average JCI closed slightly positive last week
• CDS still wide but IDR looks stable at 11,800
• Liquidity mostly still thin
• Oil below $40 a barrel
• CPO price looks higher above RM2,000 a ton
Sector
• Bank; after sharp decline around 27% on average at this sector (Bluechip Banks), We think bank sector more attractive. We still put Neutral on Bank Sector but looking short-term rebound so we took opportunity on Buy on Weakness specially on BMRI and BBCA
• ASII; after sharp decline we looks opportunity to technical rebound, we believe sales will improve soon after interest rate cut by BI on next meeting. Buy on Weakness for short-term rebound.
• Telco; TLKM believes tariffs bottomed in 4Q08 and that the price war is coming to an end, Telkomsel subscribers continue to grow, Telkom flexi gain strong traction, Broadband contribution continues to increase, Management acknowledged that they are looking into potential investment in Iran and fully aware of the political risk and potential backfire from its shareholders.
• Agro; CPO price still climbing maintain positive on this sector. LSIP, UNSP and AALI
• Energy, PGAS volume looks double on “Muara Tawar” . This is positive for PGAS, Management denied that Gas price will cut. Change our view to Outperform from Neutral.
• Coal; On weekly average price coal looks up around 4$/ton at $80,28 and on monthly at $82,68 up from $78,18. Maintain positive on coal price. Our top pick are PTBA, ITMG, ADRO and BUMI (for more risky).
Our Focus BMRI
• Recent loan restructuring and recovery effort have also helped reduce Mandiri’s gross NPL below 5%.
• Improving asset utilization coupled with declining NPL should improve BMRI profitability over the next few years
• BMRI have the highest asset quality, lowest NPL industry, highest NIM and lowest cost structure
• Gross NPL down to 4.7% YoY from from 7.2% 2007
• With EPS consensus idr 222 TP consensus idr 2,350
[Personal Opinion by Mod]
Detikfinance BUMI Pastikan Pendapatan 2008 Tembus US$ 4 Miliar
Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memastikan bakal membukukan pendapatan konsolidasi tahun 2008 di atas US$ 4 miliar. Kontribusi pendapatan dari akuisisi PT Fajar Bumi Sakti dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) mendorong kinerja fundamental perseroan.
"Kinerja full year 2008 masih diaudit. Kemungkinan akan diumumkan awal Maret 2009. Namun pendapatan tahun ini dipastikan di atas US$ 4 miliar," ujar SVP Investor Relationns BUMI, Dileep Srivastava saat dihubungi detikFinance, Senin (16/2/2009).
Menurut Dileep, sumbangsih akuisisi Fajar Bumi dan DEWA juga menjadi salah satu faktor pendorong kinerja perseroan. Tentunya selain disebabkan oleh melonjaknya harga batubara yang diterima perseroan tahun 2008.
"Kami juga akan mengkonsolidasikan kinerja Fajar Bumi dan equity account dari DEWA. Tahun 2008 ability to mine BUMI sebesar 25%. Tahun 2009, dengan akuisisi DEWA, akan meningkat menjadi 45%. Di tahun 2012 akan menjadi 58%," jelas Dileep. more...
"Kinerja full year 2008 masih diaudit. Kemungkinan akan diumumkan awal Maret 2009. Namun pendapatan tahun ini dipastikan di atas US$ 4 miliar," ujar SVP Investor Relationns BUMI, Dileep Srivastava saat dihubungi detikFinance, Senin (16/2/2009).
Menurut Dileep, sumbangsih akuisisi Fajar Bumi dan DEWA juga menjadi salah satu faktor pendorong kinerja perseroan. Tentunya selain disebabkan oleh melonjaknya harga batubara yang diterima perseroan tahun 2008.
"Kami juga akan mengkonsolidasikan kinerja Fajar Bumi dan equity account dari DEWA. Tahun 2008 ability to mine BUMI sebesar 25%. Tahun 2009, dengan akuisisi DEWA, akan meningkat menjadi 45%. Di tahun 2012 akan menjadi 58%," jelas Dileep. more...
Langganan:
Postingan (Atom)